Thursday, January 13, 2011

Langit Menggelap di Vredeburg

Beginilah menjelang senja di jantung kota. Sekelompok remaja nongkrong di atas motor model terbaru mereka sambil ngobrol dan tertawa-tawa. Ada juga remaja atau mereka yang beranjak dewasa duduk berdua-dua, di bangku semen, di atas sadel motor, atau di trotoar. Anak-anak kecil berlarian sambil disuapi orang tuanya. Pengamen yang beristirahat setelah seharian bekerja. Dan orang gila yang tidur di sisi pagar.
Di salah satu bangku kayu panjang, bersisihan dengan remaja yang sedang bermesraan, Reyna duduk menghadap ke jalan. Hanya duduk. Mengamati kendaraan atau orang-orang yang melintas. Menunggu senja rebah di hamparan kota.
Tiba-tiba laki-laki itu sudah berada di depannya sambil mengulurkan tangan. "Apa kabar?" katanya memperlihatkan giginya yang kekuningan. Asap rokok telah menindas warna putihnya.
"Kamu di sini?" Reyna tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Segala rasa berpendaran dalam hatinya. Senang, sendu, haru, pilu, yang kesemuanya membuat Reyna ingin menjatuhkan dirinya dalam peluk lelaki itu.
Begitu juga Mozes, lelaki tua yang berdiri di depan Reyna. Dadanya bergemuruh hebat mendapati perempuan itu di depan matanya. Ingin ia memeluk, menciumi perempuan itu seperti dulu, tetapi tak juga dilakukannya.
Hingga Reyna kembali menguasai perasaannya, lalu menggeser duduknya memberi tempat Mozes di sebelahnya.
"Kaget?" tanya Mozes, duduk di sebelah Reyna.
Reyna tertawa kecil.
"Gimana?" tanya Reyna tak jelas arahnya. "Lama sekali nggak ketemu."
"Iya. Berapa tahun ya? Dua lima, tiga puluh?"
"Tiga puluh tahun!" jawab Reyna pasti.
"Ouw! Tiga puluh tahun. Dan kamu masih semanis dulu."
"Terima kasih," Reyna tersenyum geli. Masih ’semanis dulu’. Bukankah itu lucu? Kalaupun masih tampak cantik atau manis itu pasti tinggal sisanya saja. Kecantikan yang telah terbalut keriput di seluruh tubuhnya. Tapi kalimat itu tak urung membuat Reyna tersipu. Merasa bangga, tersanjung karenanya.
"Kapan datang?" tanya Reyna. Mulai berani lagi menatap mata lelaki di sebelahnya.
"Belum seminggu," jawab Mozes.
"Mencariku?" Reyna tersenyum. Sisa genitnya di masa muda.
Mozes tertawa berderai-derai. Lalu katanya pelan, "Aku turut berduka atas meninggalnya suamimu," tawanya menghilang.
Reyna tak menjawab sepatah pun. Bahkan ucapan terima kasih tidak juga meluncur dari bibirnya. Ia menerawang ke kejauhan. Detik berikutnya mata Reyna tampak berlinangan. Goresan luka di sudut hatinya kembali terkoyak. Rasa perih perlahan datang. Luka lama itu ternyata tak pernah mampu disembuhkannya. Semula ia menduga luka itu telah pulih, tetapi sore ini, ketika Mozes tiba-tiba muncul di hadapannya ia sadar luka itu masih ada. Tertoreh dalam di sudut perasaannya.
Reyna dan Mozes. Mozes pekerja film yang bukan saja terampil, tetapi juga cerdas dan kritis. Reyna pengelola media sebuah perusahaan terkemuka. Mereka bertemu karena Reyna harus membuat sebuah film sebagai media pencitraan perusahaannya. Reyna yang istri dan ibu seorang anak, dan Mozes yang duda. Dua orang muda yang masih segar, bersemangat, dan menawan. Dua orang yang kemudian saling jatuh cinta.
Reyna hampir saja meninggalkan Braham ketika itu. Ibu muda Reyna merasa menemukan sampan kecil untuk berlabuh. Meninggalkan malam-malamnya yang kelam bersama Braham. Pergi mengikuti aliran sungai kecil yang akan mengantarnya ke dermaga damai tanpa ketakutan, tanpa kesakitan. Berdua Mozes.
Tetapi sampan kecil itu ternyata begitu ringkih. Ia tak mampu menyangga beban berdua. Ia hanya ingin sesekali singgah, bermesra dan bercinta tanpa harus mengangkutnya. Mozes tak menginginkan ikatan apa pun antara dirinya dan Reyna. Ia ingin tetap bebas pergi ke mana pun ia ingin dan kembali kapan ia rindu. Kebebasan yang tak bisa Reyna terima. Maka sebelum perjalanan dimulai, ia memutuskan undur diri. Perempuan itu menyadari, bukan laki-laki seperti Mozes yang ia ingini untuk membebaskan dari derita malam-malamnya. Mozes berbeda dengan dirinya yang membutuhkan teman seperjalanan, ia hanya mencari ruang untuk membuang kepedihan dan mencari hiburan. Tak lebih.
"Berapa lama kamu akan tinggal?" tanya Reyna setelah gejolak perasaannya mereda.
"Entah. Mungkin sebulan, dua bulan, atau mungkin sepanjang sisa umurku," jawab Mozes, tanpa senyum, tanpa memandang Reyna. "Banyak hal yang memberati pikiran dan tak bisa kuceritakan pada siapa pun selama ini."
"Itu sebabnya kamu kemari?"
"Jakarta semakin sesak dan panas. Sementara Jogja masih tetap nyaman buat berkarya. Jadi kuputuskan kembali," lanjut Mozes tanpa mengacuhkan pertanyaan Reyna. "Begitu kembali seseorang bilang padaku, kamu sering di sini sore hari."
"Maka kamu mencariku. Berharap mengulang lagi hubungan dulu."
Mozes menggeleng.
"Atau membangun hubungan baru."
Mozes menggeleng lagi, "Tidak juga. Aku tidak butuh hubungan seperti itu. Aku hanya butuh teman ngobrol…"
"Teman bermesra, teman bercinta yang bisa kamu datangi dan kamu tinggal pergi. Tanpa tuntutan, tanpa ikatan!" potong Reyna. "Itu hubungan yang sejak dulu kamu inginkan bersamaku kan? Seperti sudah kubilang dulu, aku tidak bisa. Aku sudah memilih."
Kebekuan kembali merejam perasaan kedua orang tua itu. Langit perlahan kehilangan warna jingga. Satu per satu lampu di sekeliling mulai menyala. Ada rangkaian lampu-lampu kecil berbentuk bunga di samping tikungan yang menyala bergantian, hijau, kuning, merah. Ada lampu besar dengan tiang sangat tinggi yang menyorot ke taman, ada pula lampu berwarna temaram yang semakin menggumpalkan kesenduan.
Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Terlalu banyak hal terjadi pada mereka dan sekian lama masing-masing memendam untuk diri sendiri. Mestinya pertemuan sore itu adalah untuk berbagi cerita bukan justru bertengkar kemudian saling diam. Atau mungkin karena perpisahan yang terlalu panjang, keduanya tak tahu apa yang harus diceritakan terlebih dahulu.
Mungkin memang begitu, karena senyatanya Reyna ingin berkata, beberapa tahun setelah perpisahan mereka ia masih juga mencari kabar tentang Mozes. Hingga suatu hari, satu setengah tahun setelah mereka tidak bersama seorang teman mengabarkan bahwa Mozes pulang ke Jakarta. Tak lama setelah itu, ia mendengar Mozes tengah melanglang buana. Buana yang mana, entah. Reyna merasa tidak perlu lagi mencari tahu keberadaan laki-laki itu. Meski tak jarang bayangan Mozes tiba-tiba membangunkan tidurnya atau menyergap ingatannya begitu Braham mulai menjamah tubuhnya dan membuat Reyna kesakitan tak terkira.
Terdengar Mozes menghela napas. Panjang. Perlahan gumpalan kemarahan yang menyesaki dada Reyna mereda. Namun hasrat untuk terus ngobrol telah tak ada. Maka sisa pertemuan itu pun berlalu begitu saja. Kebekuan masih mengental di antara keduanya. Hingga Reyna minta diri, dan beranjak pergi.
Hari-hari setelah kejadian itu, Reyna tak pernah tampak di depan Vredeburg lagi. Tetapi Mozes masih sering terlihat di salah satu bangku kayu di sana. Sendiri di tengah orang-orang muda yang tengah bercanda dan bercinta. Menghisap rokok kreteknya. Sesekali mengibaskan rambut putihnya yang panjang, tersapu angin menutup wajah tirusnya.
Begitu perasaan Reyna membaik dan siap bertemu Mozes lagi, ia kembali pada rutinitasnya, menunggu senja jatuh di Vredeburg. Namun ia harus menelan kecewa karena Mozes tak dijumpainya. Bahkan telepon genggamnya tak bisa dihubungi.
Suatu sore, di tengah keputusasaan Reyna, seorang teman mendatangi dan mengulurkan sebuah surat kepadanya. Surat dari Mozes!
"Hari-hari itu dia mencoba menghubungimu, tetapi HP-mu tak pernah aktif," kata laki-laki itu. "Ginjalnya tak berfungsi, serangan jantungnya kambuh, tekanan darahnya tidak stabil…"
Reyna tak bisa mendengar lagi penjelasan laki-laki itu. Bahkan ketika si teman menyerahkan satu dos buku dan tas berisi kamera warisan kekayaan Mozes untuknya, Reyna belum kembali pada kesadarannya.
Senja beranjak renta. Seperti Reyna merasai dirinya. Sepasang remaja di sebelahnya telah pergi. Begitu juga sekumpulan anak muda yang nongkrong di atas motor mereka, mulai menghidupkan mesin kendaraannya. Sisa adzan sayup terdengar dari Masjid Besar. Sebaris kalimat di surat terakhir Mozes meluncur dalam gumaman.
…maghrib begitu deras, ada yang terhempas, tapi ada goresan yang tak akan terkelupas.*

:: Cerpen Sulialine Adelia

Peradilan Rakyat

Cerpen Putu Wijaya
Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

"Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung.

"Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?"
"Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."
Pengacara muda itu tersenyum.
"Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa.

"Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
"Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
"Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
Pengacara tua itu tertawa.
"Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua.
Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf.

"Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang.

"Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
"Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

"Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.

Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan.

"Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

"Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba.
Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran.
"Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu."

Pengacara muda sekarang menarik napas panjang.
"Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
"Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?"
"Antara lain."
"Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."
Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
"Jadi langkahku sudah benar?"
Orang tua itu kembali mengelus janggutnya.

"Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"
Pengacara muda itu tersenyum.
"Karena aku akan membelanya."
"Supaya dia menang?"

"Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."
Pengacara tua termenung.
"Apa jawabanku salah?"
Orang tua itu menggeleng.

"Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang."

"Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan."

"Tapi kamu akan menang."
"Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang."

"Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

Pengacara muda itu tertawa kecil.
"Itu pujian atau peringatan?"
"Pujian."
"Asal Anda jujur saja."
"Aku jujur."
"Betul?"
"Betul!"

Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi.
"Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?"

"Bukan! Kenapa mesti takut?!"
"Mereka tidak mengancam kamu?"
"Mengacam bagaimana?"
"Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?"

"Tidak."
Pengacara tua itu terkejut.
"Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?"
"Tidak."
"Wah! Itu tidak profesional!"
Pengacara muda itu tertawa.
"Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!"
"Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.
"Bagaimana kalau dia sampai menang?"
"Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!"
"Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"
Pengacara muda itu tak menjawab.
"Berarti ya!"
"Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

"Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok."
"Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut."

"Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?"

"Betul."
"Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.

Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
"Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional."
"Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
"Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

"Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

"Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

Cirendeu 1-3-03

*google.com

Sunday, November 21, 2010

Boutique

Plasa Senayan adalah tempat aku menyembunyikan diri. Di sanalah aku berpaling dari kehidupan yang keras. Ada sebuah kafe di pojok yang kusuka. Aku senang di sana. Kafe Boutique.

Sore itu aku memesan bir --juga makanan kecil. Kukeluarkan laptop dan mulai mengetik. "Maafkan dosa-dosaku Tuhan. Dan maafkan pula dia."

Aku berhenti. Minum seteguk bir. Seorang perempuan memandangku dan mata kami bertemu. Ia memalingkan muka. Cantik juga. Siapa namanya? Pasti sedang menunggu seseorang. Usianya paling banyak 30. Perempuan itu membalik-balik sebuah majalah. Lalu tekun membaca. Aku kembali mengetik. "Engkau yang mengerti isi langit dan bumi. Semoga perbuatan kami diampuni."

Perempuan itu kembali memandangku. Sekali lagi mata kami bertemu. Ia tersenyum. Aku membalas senyumnya. Jarak kami cuma pelintasan jalan. Ia duduk di bawah tangga evalator. Ia berhenti membaca. Kini mengeluarkan buku dan pulpen. Ia mencoret-coret di buku itu. Lalu kembali membaca.

Karena memperhatikan caranya membaca, aku melihat cincin melingkar di jarinya. Jari-jari yang serasi dengan lengan, tubuh dan wajahnya. Ia memang cantik. Wajahnya lembut. Aku tak begitu yakin, apakah itu cincin biasa atau cincin kawin. Mungkin cincin kawin.

Buku apa itu? Jari-jarinya menutupi huruf-huruf pertama. Aku hanya dapat melihat kata-kata "SA", di ujung buku. Mungkin yang dibacanya buku Kafka. Rasanya dugaanku benar, karena aku masih ingat cover buku Kafka. Jadi ia membaca Metamorposa. Aneh juga. Di tengah lalu-lalang benda dan barang, Kafka hadir di sini. Aku mengetik lagi. "Hidup jadi sumpek tanpa hiburan. Semua orang berhak menghibur diri."

Aku berhenti.
Ke mana dia? Tas dan bukunya masih di sana. Mungkin dia ke toilet di pojok. Aku memperhatikan tas itu dengan seksama: sebuah tas hitam yang kecil. Aku berpikir, ceroboh sekali. Bagaimana kalau seseorang mengambil tas itu? Benar ini plasa yang besar. Banyak satpam. Tapi meninggalkan tas tetap kecerobohan.

Aku bangkit dan berjalan melewati mejanya. Membeli koran sore di seberang kafe. Kembali ke mejaku lagi, aku melihat buku yang dibacanya. Tidak salah: Kafka.

Tak lama kemudian dia datang. Langkahnya gemulai. Ia memakai blazer hitam dan tubuhnya seksi sekali. Rambutnya digerai sampai bahu. Ia kini lewat persis di depanku. Aku mencium aroma parfum yang lembut. Aku mengangguk padanya dan dia membalas anggukanku. Ia berjalan ke kasir. Apakah akan membayar dan pergi? Tidak. Rupanya ia memesan sesuatu. Kasir itu mengangguk, tersenyum dengan ramah. Sekali lagi ia berjalan di depanku.

"Hay, kukira sudah mau pulang?" kataku pada perempuan itu. Ia menjawab sambil tersenyum.

"Belum. Aku masih senang di sini."
"Suka membaca ya?"

"Suka juga. Kamu sendiri lagi mengetik apa?"
"Aku? Aku mengetik jiwaku."

"Sebuah kias yang bagus. Sastra ya?"
"Begitulah."

Seorang pelayan berputar sambil membawa nampan.
"Maaf ya, Bu," katanya, "apakah akan kuletakkan di meja Ibu?"

Perempuan itu mau menjawab. Tapi aku segera berkata.
"Bagaimana kalau bergabung di mejaku? Atau aku ke mejamu?"

Ia tersenyum.
"Di sini saja!"

Ia berjalan ke mejanya, mengambil barang-barangnya dan berjalan ke mejaku. Pelayan meletakkan minuman. Segelas redwine. Jadi ia minum anggur. Pemabukkah dia?
"Aku minum cuma iseng. Tak pernah mabuk. Orang kan butuh hiburan."

"Benar. Kamu kerja di mana?"
"Di sebuah perusahaan konsultan."

"Oh. Konsultan?"
"Ya. Konsultan psikologi."

"Oh, kukira tadi konsultan konstruksi."
"Konstruksi juga. Tapi jiwa manusia."

Ia tertawa. Matanya indah. Agak sipit. Agak sayu.
"Aku belum tahu namamu. Aku Hudan."

"Nama yang bagus. Aku Izza."
"Aku suka namamu. Nama yang indah."

"Ada kenangan rupanya?"
"Ya. Ada sedikit."

Hari mulai malam. Lampu-lampu dinyalakan. Tiga meja dari kami, duduk lima orang anak muda. Mereka bercakap dengan gembira. Sesekali tawa mereka meledak. Persis di depan, seorang ibu duduk melamun. Tangannya menggenggam bir. Kemudian masuk seorang lelaki dan seorang perempuan sebaya. Tanpa memilih lagi, mereka duduk di meja yang kosong. Seorang pelayan mendekat, menyodorkan menu. Lelaki itu tak peduli. Perempuan itu menyebutkan sesuatu. Pelayan pergi. Lelaki dan perempuan itu duduk berdiam diri. Tak lama kemudian lelaki itu bangkit, dan setengah menunjuk, berteriak kepada perempuan itu.

"Pertengkaran sudah dimulai!"
"Benar. Tapi untuk apa ya? Hidup mustinya dibuat gembira!"

"Ya begitulah hidup. Kamu sendiri, pernah kan bertengkar dengan suamimu?"
"Aku? Oh, aku belum kawin!"

"Belum kawin! Sudah kuduga. Dari caramu duduk dan membaca, aku tahu kamu belum kawin. Tapi cincin di jarimu itu, bukankah cincin kawin?"
"Ini bukan cincin kawin. Aku senang saja memakainya. Kamu sendiri, pernah kan bertengkar dengan istrimu?"

"Aku juga belum kawin. Memang pernah hampir, tapi tidak jadi."
"Mengapa? Ya, aku tahu. Perempuan itu bernama Izza! Dan kau punya kenangan. Sedikit, katamu tadi."

"Kamu memperhatikan ya?"
"Lho, kita kan sedang bercakap-cakap. Apa kamu tidak memperhatikan?"

"Aku memperhatikan kamu dari tadi."
"Aku juga."

"Aku memperhatikan kamu membaca."
"Aku memperhatikan kamu mengetik."

"Dan kamu ke toilet."
"Dan kamu ke mejaku. Melihat bukuku."’

"Dan kamu memesan menu."
"Dan kamu mengajakku ke mejamu."
Kami tertawa. Izza cantik sekali kalau tertawa. Aku merasa ada yang hidup dalam diriku. Tapi apakah hidup juga dalam dirinya? Aku pernah hidup semacam ini, tapi akhirnya berantakan.

"Ceritakan tentang hidupmu. Mengapa tidak kawin dengannya? Siapa tadi namanya? Ya, Izza. Seperti namaku! Kok kebetulan sekali? Aneh memang hidup ini."

"Kamu mau mendengar? Aku takut kamu tidak kuat."
"Mengapa? Ceritalah. Aku kuat. Aku siap mendengar apa saja."

"Benar kamu siap mendengar apa saja? Termasuk yang mengerikan?"
Izza memandangku heran. Ia tersenyum. Mungkin aku main-main, pikirnya. Tapi aku tidak tersenyum. Izza mulai percaya aku serius.

"Ceritalah. Sungguh aku siap mendengar apa saja. Hidupku juga kacau. Mungkin tidak kalah mengerikan dari hidupmu."
"Ya, memang hidup ini mengerikan."

Dan aku mulai bercerita. Tak terbayang aku bisa membunuh calon istriku. Suatu hari aku melihat dia naik mobil bersama seorang lelaki. Aku heran, aku tidak kenal lelaki itu. Aku mengikuti mobil mereka. Aku ikuti mereka masuk ke hotel. Sampai menghilang dalam kamar. Tak lama kemudian kamar itu kuketuk. Kukatakan room service. Mereka membuka kamar dan kudorong lelaki setengah baya itu ke ranjang. Kulihat Izza hanya memakai handuk. Jadi inilah yang mereka kehendaki, kataku. Maka kubenamkan belati ke dada lelaki itu. Aku pun mulai mendekati Izza. Dia berteriak dan meminta agar aku mendengarnya. Aku tidak mendengarnya. Aku hanya membenamkan belatiku dengan sekuat tenaga. Izza terpekik tak percaya. Tapi belati itu telah masuk dalam perutnya. Sebelum dia mati, dia sempat berbisik ke telingaku. Meminta agar aku percaya, memaafkannya: dia melakukan semua itu karena ayahnya harus operasi. Kanker, katanya. Sedang mereka tak ada biaya operasi. Akhirnya Izza mengorbankan diri. Kupeluk Izza-ku dengan sayang. Aku menangis. Mengapa begini jadinya, kataku padanya. Izza mengucapkan kata-kata yang aku tak tahu maknanya. Lalu matanya terpejam, seperti orang tidur. Begitulah ceritaku.

Aku tersadar ketika Izza memegang tanganku. Ia menatapku dengan tenang.
"Kamu tidak sendirian sayang," katanya padaku.

"Apa maksud kamu?"
"Aku juga sudah membunuh calon suamiku. Tapi kamu lebih beruntung: Izza-mu tidak berkhianat. Ia cuma berkorban untuk ayahnya. Sedang calon suamiku berkhianat. Maka aku membunuhnya."

"Dengan cara bagaimana kamu membunuhnya?"
"Aku membunuhnya begitu saja. Mereka melakukannya di kamarku. Andre memang peminum. Tapi berjanji tidak akan minum lagi. Akan mengurangi sedikit-sedikit, katanya. Aku percaya. Tapi ketika aku pulang, rumah sepi. Perasaanku tidak enak. Aku membuka pintu depan. Berjalan ke kamarku. Kudengar suara tawa cekikikan. Lalu kudengar suara Andre. Jadi begini rupanya. Maka kudorong pintu. Mereka terpekik. Kedua-duanya tanpa busana. Kulihat botol vodka dengan isi setengahnya. Jadi begini rupanya. Maka tanpa sadar tanganku meraih botol vodka dan menghempaskannya ke kepala Andre. Belum puas, kupecahkan botol itu ke dinding. Dengan cepat benda tajam itu kubenamkan ke wajahnya. Andre terkulai, seperti orang tak punya tulang belakang. Kemudian pembantuku mau lari, tapi pintu segera kukunci."

"Oh, maafkan. Kukira nyonya keluar kota!"
"Ya, saya memang keluar kota, dan kini kembali untuk kalian berdua. Sini!" kataku padanya. Ia berteriak.

"Jangan!"
Tapi pecahan botol vodka itu amblas ke mukanya.

"Begitulah ceritaku," kata Izza, sambil memainkan gelas dengan tangannya. Anggur yang yang tinggal setengah itu bergoyang. Aku meneguk bir terakhirku. Kugenggam tangan Izza. Ia membalas dengan genggaman yang sama.

Cerpen Hudan Hidayat

Perempuan Kecil Bermata Belati

Mulanya hanyalah seorang pengemis kecil yang kudorong dengan kasar sehingga jatuh terduduk ke gundukan batu-batu. Muncul dari sekelompok pengemis yang menunggu para pendaki di tepi jalan setapak menuju Gua Hira, gadis kecil itu mencegatku di deretan paling depan dan langsung menggelayuti sajadahku dengan cengkeraman yang begitu kuat. "Ana miskin...ana miskin...," rengeknya dengan tatapan mata iba sambil menadahkan tangan kanannya ke dadaku.

Ketika itu aku benar-benar kehabisan uang kecil, karena terlalu banyaknya pengemis di sepanjang jalan setapak itu --konon mereka datang dari daerah-daerah miskin di Asia Tengah. Kalaupun masih ada uang receh di dompetku, paling kecil 10 dinar dan ini pecahan yang tidak lazim dibagikan kepada pengemis. Tetapi, ternyata tidak gampang untuk menolak pengemis-pengemis yang rata-rata masih di bawah umur itu. Mereka akan menggelayuti tangan, ujung baju, sarung, sajadah, atau apa saja, untuk memaksa pendaki memberi mereka uang receh.

Begitulah dengan gadis kecil yang menggelayuti ujung sajadahku, sehingga aku sulit untuk meneruskan perjalanan. Barkali-kali aku mencoba menolaknya dengan halus, dengan bahasa Inggris campur Arab, "No money... no more... no more.... La... la... Ana laisa fulus... laisa fulus...Halas...halas!" kataku sambil menggerakkan tangan dengan isyarat menolak, dengan harapan ia mengerti maksudku dan segera melepaskan ujung sajadahku.

Tapi, gadis kecil itu masih menggelayut begitu kuat di ujung sajadahku, sampai terjadi tarik-menarik sajadah antara aku dengan si kecil yang punya "daya juang" tinggi itu. Maka, dengan agak marah, kutarik sekeras-kerasnya sajadahku, lepas dari cengkeramannya. Dan, ketika gadis kecil itu tetap memburuku untuk meraih ujung baju kokoku, kuhempaskan dia dengan kasar, sehingga terhuyung-huyung jatuh terduduk ke atas gundukan batu-batu. "Ana miskin... ana miskin...," rengeknya dengan tatapan mata cokelat yang makin mengiba ke arahku.

Dan, tatapan itulah yang terus memburuku, terus menusuk-nusuk ulu hatiku, sampai aku kembali ke hotel. Saat makan malam, tiap menjelang shalat, dan terutama menjelang tidur, mata cokelat perempuan kecil itu seperti hadir kembali dengan seluruh dirinya. Wajahnya yang oval dengan hidung mancung, alisnya yang tebal dengan mata cokelat bulat lebar --wajah khas Afghanistan-- dengan rambut panjang hitam kemerahan dikepang dua, seakan hadir seluruhnya dengan begitu nyata. Dan, suaranya seperti terngiang-ngiang kembali di telingaku, "Ana miskin... ana miskin...."
***

Perempuan kecil itu sebenarnya sangat cantik. Setidaknya, di atas rata-rata anak perempuan Indonesia. Usianya mungkin baru sekitar 10 tahun. Posturnya yang tinggi-padat dengan kulit kuning bersih sebenarnya kurang pas dengan pekerjaannya sebagai pengemis. Apalagi di bukit terpencil yang terik di siang hari dan menggigilkan di malam hari. Hanya rok hijau lusuhnya yang kumal dan robek-robek, dan rambutnya yang tidak terurus, yang memberi kesan dia sebagai gembel.

Sejujurnya, ketika itu kami juga sedang merindukan anak perempuan, untuk melengkapi dua anak laki-laki kami. Dan, doa inilah yang berulang-ulang kuucapkan di multazamm --tempat berdoa yang paling mustajab-- sehabis wukuf. "Kamu merindukan anak perempuan....Kamu terus berdoa memohon anak perempuan. Tetapi, kenapa kau tolak kehadiran anak perempuan, bahkan kau sakiti hatinya?" Sebuah suara tiba-tiba menyambar batinku.

Ya, perempuan kecil itu memang cukup mewakili sosok anak perempuan yang kurindukan, cantik, sehat, dan cerdas. Namun, tentu bukan pengemis. Jelas aku takkan ikhlas anakku jadi peminta-minta. Anakku harus mandiri dan banyak memberi. Bukan banyak meminta. Tapi, mengapa wajah perempuan kecil itu terus memburuku dan tatapan mata ibanya terus menusuk-nusukkan belati ke ulu hatiku?
***

Keesokan harinya aku benar-benar kembali mendaki Jabal Noor (Bukit Cahaya) untuk menemukan gadis kecil bermata belati itu. Kuingat betul wajah kekanakannya, mata bulat cokelatnya, alis tebalnya, hidung mancungnya, bibir merekahnya, dan rambutnya yang hitam kemerahan dan dikepang dua. Juga kuingat baju hijau lusuhnya yang robek lengan dan ujung kanannya, kaki telanjangnya yang ramping, dari kelompok pengemis mana ia muncul dan di mana ia kuhempaskan.

Tetapi anehnya, sesampai di lereng yang kuyakini sebagai tempat perempuan kecil bermata belati itu kuhempaskan, tak ada satu pun pengemis yang mencegatku. Beberapa pengemis kecil, kebanyakan perempuan, tetap asyik bermain di dekat bebatuan atau duduk-duduk santai di atas gundukan batu. Kusapukan pandanganku berkali-kali ke seluruh penjuru lereng itu, tapi tidak kutemukan juga perempuan kecil bermata belati itu. Akhirnya, anak-anak gembel itulah yang kupanggil untuk mendekat sambil berharap perempuan kecil yang kucari itu segera muncul dari balik bebatuan atau dari dalam gubuk kayu beratap kain-kain lusuh tidak jauh dari jalan setapak itu.

Beberapa kelompok pengemis kecil sudah mendekat dan segera pergi lagi setelah semua mendapat uang receh dariku, tapi tidak kutemukan juga perempuan kecil bermata belati yang kucari itu. "Ah, mungkin anak itu sudah pindah ke lereng yang agak ke atas," pikirku.

Aku sudah hendak melangkahkan kaki untuk mendaki lagi, namun ujung sajadahku tiba-tiba terasa berat. Aku menengok ke belakang, dan kulihat seorang perempuan kecil menggelayut di ujung sajadah tipis yang kuikatkan di pinggangku. "Ini dia!" teriakku dalam hati. Aku yakin, dialah perempuan kecil bermata belati yang kucari itu. Kurogoh saku baju kokoku, dan kuberi dia beberapa dinar. "Syukron... syukron!" katanya sambil menghitung-hitung uang itu dan meloncat-loncat kecil menjauhiku.

Melihat kegembiraan itu, dadaku terasa plong, seperti baru saja melunasi hutang pada kawan sekantor yang begitu mengganjal perasaan karena ia sering menagihnya. Maka, dengan perasaan lega akupun meneruskan perjalanan ke puncak, sebab masih terlalu siang untuk kembali ke hotel. Setidaknya, aku bisa shalat Ashar di puncak Jabal Noor atau di Gua Hira --tempat Nabi Muhammad SAW dulu menerima wahyu pertama.

Tetapi, baru sekitar 50 meter melangkah, aku melihat gadis kecil yang sangat mirip dengan perempuan kecil bermata belati yang kucari. Penampilannya masih seperti kemarin. Rambutnya masih dikepang dua, dan ketika kudekati, tatapan ibanya yang mengandung belati masih tajam menusuk ulu hatiku. "Ah, jangan-jangan ini yang benar," pikirku. Dan yang bersamanya, aku ingat, adalah pengemis-pengemis kecil yang kemarin juga. Hanya warna bajunya, lagi-lagi, yang berbeda. Kemarin hijau lusuh, kini kuning kecoklatan. Maka, kurogoh lagi saku bajuku lalu kuberi dia lima dinar. Dengan wajah terbengong-bengong gadis kecil itu menerimanya.

Namun, ketika aku hendak melangkah lagi, tiba-tiba ada yang terasa menggelayuti tangan kiriku, dan ternyata seorang perempuan kecil yang wajahnya sangat mirip dengan gadis kecil bermata belati yang baru saja berlalu. Rambutnya pun hitam kemerahan dan dikepang dua. Bajunya juga hijau lusuh seperti baju gadis kecil yang kucari itu. "Ana miskin... Ana miskin...," rengeknya sambil menadahkan tangan kanannya, persis seperti rengek perempuan kecil yang kemarin kuhempaskan ke atas gundukan batu.

Ini yang benar, pikirku. Inilah perempuan kecil yang kucari. Maka, segera kurogoh lagi saku celana jinku, dan kuberikan beberapa dinar kepadanya. Tetapi, bersamaan dengan itu, seperti serentak muncul pengemis-pengemis kecil dari balik bongkahan batu, dari celah bukit, dari dalam gubuk-gubuk beratap kain lusuh, lima, sepuluh, lima belas, tiga puluh .... dan banyak di antara mereka yang wajahnya sangat mirip dengan perempuan kecil bermata belati yang kemarin kuhempaskan itu. Mereka melangkah serentak ke arahku, seperti mumi-mumi hidup, dengan pakaian compang-camping, sambil menadahkan tangan dan koor, "Ana miskin... ana miskin...."

Dengan begitu cepat pengemis-pengemis kecil itu mengepungku, sehingga aku tak dapat menghindar dari mereka. Dengan agresif tangan-tangan kecil mereka pun menadah di sekelilingku, bertempelan di dadaku, di lengan kanan-kiriku, di punggungku. Dan, dengan tatapan-tatapan iba yang menghunjamkan puluhan pisau belati ke ulu hatiku, mereka memaksaku untuk menguras seluruh isi saku bajuku, saku celanaku, dan dompetku. Dengan tangan gemetar dan perasaan tak menentu, kubagikan semua sisa recehan satu dinar, lima dinar, dan bahkan sepuluh dinarku.

Satu demi satu mereka pun pergi meninggalkanku, kembali ke balik bongkahan-bongkahan batu, ke dalam gukuk-gubuk beratap kain lusuh dan ke celah-celah pebukitan tandus Jabal Noor. Dengan tubuh lemas dan perasaan tak menentu, akhirnya aku turun, dan langsung menuju Masjidil Haram. Usai shalat Ashar aku meninggalkan masjid untuk kembali ke hotel. Tapi, di pintu keluar aku masih dicegat seorang perempuan kecil bermata belati itu. Dan, ini yang paling persis di antara gadis-gadis kecil bermata belati yang kutemukan di Jabal Noor tadi. Rambutnya masih dikepang dua, dan roknya juga masih hijau lusuh dengan robekan kecil pada lengan kiri dan ujung bawah kanannya.

Maka, tanpa pikir panjang kurogoh dompetku dan kucari sisa uang receh yang ada. Tapi, tak ada lagi uang receh di sana. Yang kutemukan tinggal selembar 50 dinar. Dan, tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, uang itu kuberikan begitu saja padanya. Sampai di kamar hotel aku baru sadar, yang kuberikan pada perempuan kecil bermata belati itu ternyata satu-satunya sisa uang sakuku.

Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda

Kekasih Seorang Lelaki

Ini kesekian kalinya aku ingin pergi. Dari rumah yang lima tahun lalu kubangun sedikit demi sedikit hingga akhirnya menjadi tempat berteduh bagiku dan Maya, istriku. Tapi kemudian aku tidak lagi merasa nyaman, ketika peristiwa itu terjadi di suatu malam, setelah aku kelelahan menulis. Aku berjumpa dengan kekasihku, dan kami saling jatuh cinta. Ia bilang telah menungguku begitu lama. Hingga tergurat luka rindu yang merentang panjang di antara aku dan dia. Waktu itu aku menatapnya tajam dan ia tertunduk malu. Kukatakan padanya aku akan datang menujunya. Ia bertanya, "Kapan?", seolah tak percaya pada perkataan dan janjiku. Kujawab, "Segera."

Tetapi setelah itu aku selalu gagal. Sepuluh kali aku mencoba pergi, tak pernah ada yang berhasil. Aku masih di sini, di rumahku bersama Maya, istriku. Saat itu Maya tidak tahu tentang rencanaku untuk pergi. Ia hanya sesekali bertanya dan merasa curiga padaku. Katanya sikapku semakin aneh di matanya. Biasanya aku meredam kecurigaan istriku itu dengan memeluk tubuhnya erat-erat. Mencium keningnya dan berkata, "Tidak ada yang aneh. Semua biasa saja." Setelah itu Maya diam. Dan aku tidak merasa bersalah sama sekali karena ketidakjujuranku.

Beberapa kali kekasihku datang menemuiku. Terutama ketika Maya tidak sedang berada di sampingku. Kulihat wajah kekasihku kian mengkerut dan tampak kelelahan.

"Kau kenapa?" tanyaku ragu-ragu karena cemas. Aku laki-laki pencemas. Terutama terhadap seorang yang kucintai.
"Terlalu lama aku menunggumu. Terlalu lama aku memetiki penanggalan hanya untuk menghitung waktu kedatanganmu yang palsu. Kau lihat, jari-jariku telah kaku dan membiru. Tubuhku beku tak terjamah pelukanmu. Kepulan asap putih yang menerbangkan rindumu padaku semakin mengabur. Melemah. Dan aku mulai tak sadarkan diri di kesendirianku yang panjang. Tapi kau tak datang juga padaku. Bahkan semakin jarang mengintip dan mengetuk pintu rumahku. Kau mengurung diri dalam kematian singkatmu yang menyedihkan. Bersama jiwa-jiwa yang tak benar-benar hidup. Kau menduakanku dengan kesementaraan. Sedang penantian dan cintaku adalah abadi bagimu. Aku menunggumu dalam kehidupan, tapi kau mengubur diri di makam yang kau lihat subur itu. Kita terlampau lama terpisah."

Aku melihat jelas mata kekasihku meredup. Kuulurkan tangan dan kukatakan padanya aku merasakan hal sama. Rindu yang menuntut penuntasan yang segera.

"Aku akan pulang. Untuk bersamamu," kataku.
Tetapi tubuh kekasihku berguncang. Seperti tertiup angin malam, ia berangsur menghilang dari hadapanku. Aku makin mencemaskannya yang pergi tanpa sempat berkata apa-apa lagi padaku.

Tanpa pikir panjang, esoknya aku memutuskan pergi. Sengaja aku tak membawa apa pun dari rumahku, karena aku tahu Maya akan membutuhkannya jika aku tak ada di sisinya lagi. Namun baru sampai teras rumah, Maya melihatku. Nafasnya naik turun menangkapku yang berniat pergi. Ia marah padaku.

"Kau mau pergi? Meninggalkanku?" tanyanya dengan ketus.
Aku menjawab dalam hati. Ya, istriku. Aku akan pergi. Dan kau tahu itu, pergi berarti meninggalkan. Tapi aku bukan mau meninggalkanmu. Aku akan meninggalkan kesementaraan ini. Kekasihku menungguku dalam kehidupan abadi. Maka aku akan pergi, jauh dari kematian ini.

Maya, istriku, memasang wajah kecewa. Dilipatnya gurat-gurat kebahagiaan yang selama ini menghiasi tulang pipinya yang merona. Sinar matanya meremang. Seperti mata kekasihku yang lelah menungguku. Aku mendadak cemas. Bukan pada Maya, tapi kekasihku. Rasanya aku akan gagal lagi, untuk pergi dari sini. Maya, istriku, menahanku. "Jangan pergi," katanya. Langkahku terhenti. Bayangan kekasihku hilang di benakku.

Maya memenjarakanku dalam peluknya yang berbau kematian. Nafasku sesak mengingat kekasihku yang jauh. Jangan kemari, kekasihku. Batinku. Kalau tidak, kau akan terbakar cemburu dan menangisiku yang bercengkerama bersama jiwa yang tak abadi ini. Kubiarkan Maya terus memelukku erat. Peluklah aku sekuat yang kau mampu perempuanku. Tapi kau tak akan pernah memeluk jiwaku. Karena jiwaku telah pergi terbawa rindu kekasihku. Dan kau tak pernah tahu itu.

"Katakan. Kenapa kau ingin meninggalkanku?" tanya Maya di antara pelukan panjangnya.
Aku harus pulang, Maya. Menemui kekasihku yang abadi. Kau hanya jiwa yang terkurung dalam makam kesementaraan. Kematian singkat yang menyedihkanku. Dan kekasihku sudah terlampau lama menungguku. Seperti aku juga merindukannya sejak dulu. Kini kami telah bertemu dan saling jatuh cinta. Menyatukan cinta yang terpisah lama dalam rentangan dua kejadian. Kau dan aku, di sini hanya sebuah kematian. Seperti pelukan ini yang kau tawarkan padaku. Membuatku mual oleh aroma kehinaan. Aku harus pulang, Maya. Dan aku tak perlu meminta maaf karena semua ini. Jangan menahanku dalam kedukaan ini, istriku. Mengapa tak kau temui saja kekasihmu seperti aku menjumpai kekasihku? Tidakkah kalian juga saling merindu? Dan kita tinggalkan pemakaman ini. Terbang menuju rumah cinta kekasih-kekasih kita.

"Mengapa kau diam? Sudahkah tidak ada yang berharga lagi di sini bagimu?" Maya makin erat memelukku.
Ayolah, Maya. Aku bukan siapa-siapa di sini. Aku hanya menjadi rumput liar yang tumbuh di sela-sela batu yang kau injak. Bahkan aku tak dapat tumbuh membesar. Aku mati dalam kekerdilanku. Kelemahanku. Kesementaraanku yang sangat singkat. Melindungimu pun aku tak dapat. Lepaskan genggamanmu yang melukaiku, istriku. Atau lemparkan saja aku ke arus sungai yang beriak dan menampar wajahku dengan kasar. Agar aku tersadar, dan tak lagi menyurutkan diri ke dalam lubang kematian yang memanggilku berulang-ulang. Melarangku untuk pergi, dan memelukku dengan aroma kematian yang mencekat. Maya, aku akan pergi. Pulang menuju kekasihku. Dan aku tak perlu minta maaf padamu.

"Kau tidak mencintaiku lagi?"
Maya, istriku, membentengiku dengan pagar-pagar ketakutan dan kesedihan miliknya. Ia menyalahkan dirinya atas kepergianku. Sungguh, perempuan yang mengajakku pada kematian, aku tak berani mencintai yang lain selain kekasihku. Tidakkah kau tahu aku begitu bahagia bisa bertemu dengannya lagi dan merajut percintaan abadi? Lalu kenapa kau ingin menarik kedua tanganku untuk kembali jatuh terguling-guling di dasar kesedihan? Mengapa kau minta dadaku hanya untuk menangisi kesementaraan? Maya, kau buat dadaku hancur tertusuki duri-duri bening yang mengesalkanku. Aku mulai tak tahan.

"Jangan katakan kau punya seorang yang lain," Maya mengisak.
Aku bertemu dengannya di suatu malam yang terang. Ya, aku mempunyai seorang yang lain. Kekasihku dari kehidupan yang abadi.

"Aku takkan melepaskanmu."
Maya, istriku, ini ancaman darimu? Apakah kesementaraan dapat mengancam sebuah penujuan keabadian? Aku akan pulang bersatu dengan kekasihku. Maya, sudahlah. Biarkan aku pergi.

Dan Maya tetap memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Semalaman aku dikuburnya dalam-dalam.
Kekasihku datang menemuiku dalam satu kesunyian. Maya tengah terlelap dalam mimpi malamnya. Lagi-lagi kekasihku mengajakku untuk bersatu dengannya. "Apa yang kau tunggu? Sampai kematian itu memanggil dan merebutmu lagi untuk tenggelam dalam kesedihan ini?" Kekasihku mengulurkan tangannya kepadaku.

"Maya adalah kematian yang ingin selalu mengurungku di sini. Ia adalah kematian yang memiliki warna kesedihannya sendiri. Yang dapat membuatku selalu jatuh dan kembali padanya."

"Pulanglah. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Kematian itu sudah terlalu lama melakukannya padamu dan jiwa-jiwa lainnya. Mengapa kau masih ingin memelihara tangisan yang merugikan?"

Kutatap kekasihku yang begitu lama kurindu. "Aku pulang bersamamu," kataku. Dan aku bangkit meninggalkan rumahku, menuju rumah cinta bersama kekasihku.

Dan ini adalah yang kesekian kalinya Maya mencoba menahan kepergianku. Tubuhnya hanya terbalut pakaian tidur tipis ketika mengejarku. Tidak, jangan lagi. Pikirku.

"Baiklah. Kau boleh pergi. Bukankah kau selalu ingin pergi? Seperti dulu, saat kau berkeras ingin menjadi seorang penulis. Kau juga mengatakan itu sebagai kepergian atas sebuah panggilan. Kau bilang aku tak sampai untuk mendengar panggilan itu. Seperti itukah kali ini yang kau lakukan? Dan kau menyuruhku untuk melepasmu lagi, seperti dulu kubiarkan kau pergi di jalan kepenulisanmu yang nyata-nyata nyaris membunuhku? Betapa egoisnya kau."

Suara Maya menjadi petir di malam itu. Benarkah? Batinku. Mungkinkah kematian ini menemui mati yang kedua kali karena sebuah kepergian? Peninggalan? Maya, istriku, kali ini kau memanggilku dengan cara yang berbeda. Kesedihan yang lain. Tapi mengapa aku harus menoleh dan mendengarkan? Mengapa aku harus melupakan kekasihku dan menemuimu kembali? Mengapa aku harus menemanimu dalam kematian ini untuk terus bersedih dan tenggelam dalam kesementaraan? Bagaimana dengan kekasihku yang menungguku begitu lama? Aku demikian cemas. Terhadap kekasihku yang mulai melenyapkan dirinya di benakku.

Maya mendekat. Menghampiriku yang mencari bayang kekasihku yang hilang. Setengah sadar, aku sudah berada dalam pelukan yang sangat kukenal. Pelukan beraroma kematian. Maya mendekapku erat. Jiwaku terus memikirkan kekasihku yang entah ke mana. Tunggu aku, kekasihku. Aku akan datang. Segera.

Aku berduka. Karena penyatuan yang sekali lagi harus tertunda. Tapi pikiranku memberiku jalan lain. Mungkin kelak aku mesti mengajak Maya, istriku. Untuk meninggalkan kematian ini. Berkenalan dengan kekasihku yang abadi. Tetapi Maya memelukku dalam pelukannya yang beraroma kematian. Malam itu, dan malam-malam yang lain.

Cerpen Maya Wulan

Senja

Sering dibayangkannya bahwa awan-awan yang putih di bentangan langit biru itu adalah pulau-pulau kapas. Kadang, awan itu membentuk bentangan air terjun yang membeku, atau gunung karang putih yang mengambang di lautan biru.

Sehari penuh dia amati setiap perubahan yang ada di langit sana. Dan ketika awan-awan itu kian memerah dan akhirnya hilang oleh gelap malam, dia pun berjalan pulang ke rumahnya. Di sapanya rumput, batu, tanah dan perdu. Disenyuminya angin yang dengan nakal menyusup-nyusup di sela rambutnya.

Sesampainya di rumah, dia disambut keheningan yang berjingkrak-jingkrak bagai kanak-kanak menyambut ibu pulang dari pasar. Gelap, beranda rumahnya, berisi kursi plastik yang jebol di sana-sini, serta selapis debu siang hari.

Disapanya mawar merah dalam pot di beranda itu dengan siraman air. Kemudian dinyalakannya saklar dan beranda menunjukkan wajahnya yang samar-samar. Beberapa serangga mengitari bola lampu, seperti bergembira menyaksikan kehidupan ada di rumah itu.

Apa yang bisa dilakukannya setelah semua pintu kantor tertutup baginya? Tak ada lagi sisa pekerjaan. Kantor tak membutuhkan seorang laki-laki kurus, apatis, dan lamban seperti dia. Kantor tak membutuhkan otak yang selalu menolak dan menilai sebuah tugas. Tidak. Pintu-pintu kantor terbuka bagi mereka yang muda, gesit, dan tak banyak tanya; kecuali jumlah billing yang akan diterima kantor. Mereka bicara hanya soal insentif.

Laki-laki itu mendesah. Sejak semuanya tersapu badai krisis 98, istrinya pun minggat bersama --entah siapa. Meninggalkan semua, bahkan juga kenangan.

Laki-laki itu duduk, setelah tentu saja mandi, memasak mi instan dan memakannya di beranda. Sebatang kretek menyala dan terselip di sela jarinya yang kurus. Entah mengapa, dia ingin sekali menengok kotak pos di pagar. Dengan lesu, dia berjalan dan membuka kotak pos itu. Tak di sangkanya di sana ada sepucuk surat.

Dengan harap-harap cemas dia segera mengambil surat itu, membukanya buru-buru, dan mencari tempat di bawah lampu untuk membacanya.
Surat itu berasal dari seseorang yang tak dikenalnya. Si pengirim menyebutkan bahwa dia mendapatkan alamat serta nama si laki-laki itu dari seseorang yang "...kenal betul dengan bakat anda..", begitu yang tertulis di situ.

Dia tertegun. "Bakat?" gumamnya. Lalu dilanjutkannya membaca. Intinya, setelah panjang lebar menguraikan berbagai hal, si pengirim meminta laki-laki itu untuk bertandang ke rumahnya di kompleks perumahan mewah di kota itu.

Aneh. Mengapa dia tak langsung saja datang. Mengapa harus berkirim surat, jika tinggal di kota yang sama? Di situ, di bawah tanda tangan si pengirim, disertakan sebuah nomor telepon.

Usai membaca, laki-laki itu duduk lagi di kursi plastik jebolnya. Ada sesuatu yang tiba-tiba muncul di benaknya --entah apa, dia sendiri tak begitu paham. Dengan cepat dihisapnya rokok kretek itu. Asap mengepul-ngepul, sebelum lenyap ditiup angin.

Bergegas pula dia ke telepon, dan sambil melihat nomor yang ada di surat itu dia pun menekan-nekan angka yang dimaksud. Dia terdiam beberapa saat. Kemudian, "Haloo..." dan terjadilah pembicaraan yang agak tersendat-sendat.

Laki-laki itu banyak terdiam, mendengarkan. Jika pun harus menjawab, bibirnya hanya menyuarakan "oke" atau "baik", dan paling banyak "ya". Pembicaraan itu akhirnya selesai, setelah si laki-laki menjawab, "sama-sama."

Kembali dia duduk di beranda, sambil mencoba menyatukan berbagai kilasan bayangan di pembicaraan telepon tadi. Dinyalakannya sebatang rokok lagi. Lalu, sesaat setelah hisapan ketiga baru saja dilakukan, dia seakan mendapat jawaban akan apa yang seharusnya dilakukan.
***
Hari itu adalah hari ketiga dia "bekerja" di rumah si pengirim surat. Dan bahkan sampai hari ketiga itu pun, dia tak tahu siapa si pengirim surat. Dia hanya berhubungan dengan seseorang yang memperkenalkan diri sebagai "pembantu" si tuan rumah. Dan si "pembantu" itu pun enggan menyebutkan namanya. Laki-laki kurus itu tak keberatan. Apalah artinya dia mengetahui nama seseorang, jika hal itu tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Bukankah dunia tempat dia hidup sudah memberinya semacam ekosistem seperti itu?

Seperti dua hari sebelumnya, dia duduk dan menunggu reaksi orang yang ditungguinya. Yang ditungguinya itu adalah seorang gadis muda, jelita, namun gila. Begitulah si "pembantu" bos besar itu mengatakannya dua hari yang lalu.

"Lalu, apa hubungannya dengan saya? Kalau dia gila, bawa saja ke rumah sakit gila..."
"Sudah. Dokter mengatakan bahwa dia tidak apa-apa."

"Kok, aneh? Kok, situ bisa mengatakan bahwa dia gila?"
"Ayahnya sendiri yang mengatakan begitu. Saya cuma meneruskan ucapannya kepada Anda."

"Terus, apa saya ini dianggap dukun?"
"Saya tidak tahu, Anda dukun atau bukan. Yang penting, Sampean diminta untuk mengupayakan agar dia sembuh. Begitu kata bos."

Laki-laki itu sebetulnya tak tahu apa yang harus dilakukannya terhadap gadis cantik yang katanya gila itu. Dia hanya duduk dan menatapnya.
Ditatapnya sepasang bola mata yang bening namun kosong itu. Tak ada siapa-siapa di dalam bola mata itu. Gadis itu sendiri seperti telah pergi, atau mengembara ke negeri jauh, entah apa namanya.

Ini sudah hari yang ketiga. Dan laki-laki itu sendiri sudah putus asa menghadapi sesuatu yang tak jelas ini. Dia ingin mengatakan kepada si "pembantu" bos bahwa dia menyerah. Namun, ada sesuatu yang membuatnya batal mengatakan maksudnya.

Secara iseng, laki-laki itu kemudian mengambil sebuah patung kuda perunggu, yang memang bagus. Diperkirakannya, itu buatan Italia. Detil pada surai, bahkan pada bungkah otot-ototnya membuat kuda perunggu itu tampak bernyawa.

"Haha... apa kabar tuan putriku? Apakah hari ini tuan putri siap berjalan-jalan?" ucapnya sambil memainkan kuda yang hanya segenggaman tangan itu. Kuda itu digerak-gerakkannya di depan wajah si gadis.

Si "pembantu" hanya mendesah. Di benaknya hanya ada satu ungkapan "gila ternyata menular".
"Kita akan membelah awan. Tahukah tuanku bahwa awan sesungguhnya adalah sebuah daratan di langit. Dia tergantung, dan tidak terdiri dari tanah dan batu. Seluruh pohon, bahkan air yang ada di sana, adalah kabut putih yang indah. Dan manakala matahari bersinar, pohon-pohon di negeri awan itu akan tembus, laksana kristal."

"Bawa aku."
"Ten...tu, tentu." Tiba-tiba si laki-laki tercekat mendengar ucapan itu. Dia seperti tak menyangka bahwa itu diucapkan si gadis.

Si "pembantu" bos pun agaknya juga terheran-heran. Bagaimana mungkin, setelah bertahun-tahun, gadis itu "pergi" dari tubuhnya, mendadak kembali hanya karena bualan si laki-laki. Dia segera menelepon bosnya melalui hp.

Sementara itu, laki-laki kurus itu seperti melihat ada cahaya kehidupan di bola mata bening itu. Dia berhati-hati mengutarakan keindahan yang dikhayalkannya. Dan untuk beberapa kali, dia sempat menyaksikan senyum kecil tersungging di sudut bibir gadis cantik itu.

"Kau harus membawaku ke sana."
"Baik. Apakah tuan putri ingin naik ke punggungku?"

"Apakah kau bisa terbang?"
"Bisa. Lihat?" Laki-laki itu mengangkat kuda perunggu itu tinggi-tinggi melampaui kepalanya sendiri.

Si gadis tertawa kecil, matanya mengikuti ke mana pun gerak tangan si laki-laki terarah. Dan ketika si laki-laki pura-pura menjatuhkan kuda perunggu itu, si gadis terpekik dan tertawa senang.

Gunung es itu telah cair dan laki-laki itu seakan menemukan beranda rumahnya terang benderang. Mawar yang ada di pot kecil di beranda itu seakan berkembang dan mengharum.
***
Seminggu kemudian, gadis itu mau berdandan dan mengajak laki-laki itu berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas. Dia dengan manjanya merangkul lengan laki-laki itu. Dan tentu saja, laki-laki itu menjadi muda kembali --meskipun usianya belumlah setua wajahnya.

"Mas pernah menikah, ya?"
"Ya...dengan seekor kupu-kupu," candanya.
Gadis itu tergelak, "Cantik, tentunya..."

"Ya. Secantik kupu-kupu. Serapuh kupu-kupu..."
"Ke mana dia sekarang?"

"Terbang. Bukankah kupu-kupu selalu ingin dikejar?"
Kembali gelak tawa si gadis terdengar. "Kok, Mas tidak mengejarnya?"

"Capek."
"Capek? Kalau begitu selama menikah Mas mengejar dia terus-menerus?"

"Ya."
"Mas tidak suka mengejar perempuan, ya?"

"Ya. Capek."
"Mas tidak mencari pacar?"

"Tidak. Capek."
"Capek terus, sih?"

"Ya. Hidupku sudah amat melelahkan. Kamu sendiri ke mana saja selama ini?"

"Jalan-jalan."
"Ke mana?"

"Ke mana saja, asal tidak di rumah."
"Mengapa?"

"Capek?," jawabnya singkat menirukan gaya bicara si laki-laki. Keduanya kemudian tertawa bahagia. Sebuah dunia yang aneh, yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

"Kata ayahmu, kamu mau dikawinkan. Dan sejak percakapan itu, kamu ?"menghilang". Mengapa, nggak suka sama calon suamimu?"

"Tahu dari mana?"
"Tuh, dia yang mengatakan padaku?," jawab si laki-laki sambil menunjuk pada si "pembantu".

"Herder macam dia dipercaya."
"Herder? Terlalu bagus; buldog," tambah si laki-laki sambil tertawa. Si gadis pun tertawa.

Setelah itu hening. Setelah hening, "Aku capek Mas. Semuanya ditentukan dan sudah ada jalurnya. Aku nggak bisa mengatakan "tidak", ya, akhirnya aku pilih diam saja."

"Mas, mau nggak, ngajak aku ke rumahmu?"
Laki-laki itu terdiam. Dia bukan saja ingin mengajak gadis cantik itu ke rumahnya, tetapi bahkan ke atas ranjangnya. Dia ingin memeluk dan menumpahkan kegersangan jiwanya selama ini ke tubuh si gadis itu.

"Ada syaratnya...," akhirnya si laki-laki berkata.
"Apa?"

"Kau harus mau jadi istriku."
"Mengapa?"

"Ya?pokoknya harus," jawab laki-laki itu sekenanya.
"Kalau?pacar?"

"Wah..."
"Kalau pacar, gimana?"

"Ya?mmm... gimana, ya?"
"Kita pacaran dulu."

"Ah, kamu kayak kupu-kupu."
"Tidak. Kupu-kupu hanya memberi isyarat agar dikejar. Aku tidak ingin kejar-kejaran. Aku hanya ingin kenal lebih lama."

"Begini, Dinda," baru kali itu laki-laki itu mengucapkan nama si gadis, "tugasku untuk "menyembuhkan" kamu sudah selesai. Kamu, kan... sekarang sudah bisa bicara dan tertawa."

"Jadi Mas pergi? Lalu mengunciku dalam ruang kenangan?"
"Tidak. Bukan maksudku begitu."

"Kalau Mas pergi, aku akan "pergi" lagi."
"Jangan, dong..."

"Kenapa?"
Laki-laki itu diam, dalam hati dia juga bertanya, apa sebetulnya yang tengah terjadi dalam hidupnya ini.

"Mas nggak merasa bahagia bersama aku?"
"Bahagia, karena melihat kamu bisa ceria lagi. Kembali lagi seperti dulu kala."

"Sok tahu. Aku nggak mau seperti dulu. Aku mau seperti besok, seperti yang akan datang..."

"Jangan aneh-aneh."
"Aku nggak aneh-aneh. Aku cuma kepingin bisa bicara apa saja yang aku suka. Aku hanya ingin tertawa, kapan saja aku mau. Dan itu semua hanya bisa kulakukan dengan Mas. Kalau Mas nggak ada, lantas...?"

"Bapak-ibumu nggak bisu, kan?"
"Siapa, tuh?"

"Siapa, yang siapa?"
"Bapak-ibu."

"Hus. Sama orang tua, kok, begitu."
"Siapa yang orang tua?"

"Ah, anak sekarang. Dosa besar kamu mengingkari orang tua sendiri."
"Siapa yang Mas sebut orang tua?"

"Ya...orang yang mbayar aku, yang kasih honor aku puluhan juta rupiah ini. Siapa lagi?"
"Ooo?orang tua itu?"

"Hei?jangan ngawur, lho."
"Tidak, aku tidak ngawur. Orang tua itu, kan?"

Laki-laki itu menatap Dinda dengan pandangan menyelidik. Sepasang mata Dinda seperti sengaja menyambut tatapannya. Seakan mempersilakannya masuk dan membongkar setiap relung dan liku yang ada di dalamnya.
***
Laki-laki itu, yang biasanya hanya diam menatapi awan-awan berserakan di langit, yang merasa hidupnya kosong melompong, tiba-tiba kalang kabut. Betapa tidak, Dinda yang selama ini diketahuinya adalah anak seorang kaya, yang sakit jiwa dan karenanya si bapak mencarikannya dukun, dan secara kebetulan memilih laki-laki itu, ternyata hanyalah bapak angkat Dinda. Dan si bapak angkat ternyata menginginkan Dinda seutuhnya. Dia menyayangi Dinda dan memaksakan diri masuk ke dalam ruang-ruang kesucian anak angkatnya itu. Tak mengherankan jika Dinda membeku.

Laki-laki itu mendidih mendengar semuanya, dan karenanya, entah dengan pertimbangan apa, dia segera mengajak Dinda terbang mengendarai kuda terbang.

Dia mendadak merasa menjadi Pronocitro yang mengajak terbang Roro Mendut dari kungkungan Adipati Wiroguno.
Tetapi, laki-laki itu tiba-tiba merasa capek. Dia tak ingin mengejar dan dikejar. Dia hanya ingin duduk tenang di beranda rumahnya yang sepi dan berdebu. Dia hanya ingin setiap kali menyirami mawarnya, ada kesegaran yang menyiram jiwanya.

Seperti senja itu. Laki-laki itu kembali duduk di beranda rumahnya, dan merokok. Dia dengan segera melipat halaman-halaman indah buku kehidupannya --walau hanya beberapa lembar-- bersama Dinda.

Di keheningan senja, di beranda rumahnya, dia hanya bisa membayangkan Dinda berada di sampingnya, meskipun saat itu, mungkin berada dalam pelukan orang lain. Laki-laki itu benar-benar merasa lelah, bahkan sekadar untuk mengakui bahwa dirinya seorang laki-laki.

Cerpen Yanusa Nugroho

Cahaya Bulan

Madame Julie Roubere tengah menanti kedatangan kakak perempuannya, Madame Henriette Letore, yang baru saja kembali dari perjalanan ke Negeri Swiss.

Seluruh keluarga Lotere melancong semenjak lima minggu lalu. Madame Henriette mengizinkan suaminya pulang sendirian ke kampung halamannya di Calvados, karena ada beberapa urusan bisnis yang harus diselesaikan, dan menghabiskan beberapa malam di Paris bersama kakaknya. Malam berlalu. Dalam keheningan yang senyap, Madame Roubere asyik membaca dengan pikiran kosong, sesekali menaikkan alis matanya setiap kali mendengar suara.

Akhirnya, pintu rumahnya diketuk, dan kakaknya muncul dalam balutan jaket tebal. Dan tanpa salam formal, mereka berpelukan penuh kasih dalam waktu yang cukup lama, melepaskan pelukan sebentar lalu saling memeluk lagi. Kemudian, mereka saling menanyakan kabar, keluarga dan ribuan hal lain, menggosip dan saling menyela, sementara Madame Henriette sibuk melepas jaket dan topinya.

Malam cukup gelap. Madame Roubere menyalakan lampu kecil, dan tak lama kemudian, dia acungkan lampu itu ke atas untuk menatap wajah kakaknya, lalu memeluknya sekali lagi. Namun, betapa terkejutnya dia saat menatap wajah kakak tercintanya itu. Dia mundur dan tampak ketakutan.

Di kepala Madame Letore tampak dua gepok besar rambut putih. Sisanya, rambut itu tampak hitam pekat berkilauan dan di setiap sisi kepalanya terdapat dua sisiran keperakan yang menyusur ke tengah gumpalan rambut hitam yang mengitarinya. Dia baru berumur 24 tahun, dan tentu saja perubahan ini benar-benar mengejutkan dia semenjak kepergiannya ke Swiss.

Tanpa bergerak sedikit pun, Madame Roubere menatap penuh keheranan, titik-titik air mata menetes ke kedua pipinya. Pikirannya berkecamuk, bencana apa yang telah terjadi pada kakaknya.

Dia bertanya, "Apa yang terjadi padamu, Henriette?"
Dengan menyunggingkan senyuman di wajahnya yang sedih, senyum seseorang yang patah hati, Henriette menjawab, "Tidak ada apa-apa. Sumpah. Apakah kamu sedang memperhatikan rambut putihku ini?"

Tetapi Madame Roubere keburu merampas pundaknya, menatapnya tajam, dan mengulangi pertanyaannya lagi.
"Apa yang terjadi padamu? Ayo katakan, apa yang telah terjadi. Dan jika kamu berbohong, aku pasti akan mengetahuinya."

Mereka masih saling pandang, dan Madame Henriette, yang terlihat seolah-olah hendak pingsan, meneteskan air mata dari kedua sudut matanya.
Adiknya bertanya lagi, "Apa yang terjadi padamu? Apa yang terjadi? Ayo jawab aku!"

Dengan suara patah-patah sambil tersedu, Henriette menjawab, "Aku … aku punya seorang kekasih."
Ketika sedikit lebih tenang, ketika degup jantungnya yang keras mulai mereda, dia memasrahkan kepalanya ke dada adiknya seolah-olah hendak melepaskan semua beban hatinya, untuk menguras seluruh derita yang telah menyesakkan dadanya.

Dengan tangan saling bergenggaman, dua kakak beradik ini berjalan menuju sofa di sudut ruangan yang gelap. Mereka tenggelam dalam keharuan, sang adik memeluk kakaknya erat-erat untuk mendekatkan diri, lalu mendengarkan.

"Oh! Aku tahu kalimatku ini tidak masuk akal; aku bahkan tidak dapat memahami diriku sendiri, dan semenjak itu aku merasa telah menjadi orang gila. Berhati-hatilah, adikku, berhati-hatilah dengan dirimu sendiri! Jika saja kamu tahu betapa lemahnya kita, betapa cepatnya kita menyerah dan jatuh. Cukup satu momen kelembutan saja, satu masa melankolis yang menerpamu di antara ribuan kerinduan untuk membuka tanganmu, untuk mencintai, menyukai sesuatu, maka kamu pun akan dengan mudah jatuh.

Kamu mengenal suamiku, dan kamu tahu betapa aku mencintainya; tetapi dia pria yang matang dan rasional, dan tak mampu memahami getaran lembut hati seorang wanita. Dia selalu sama, selalu baik, selalu tersenyum, selalu ramah, selalu sempurna. Oh! Betapa kadang-kadang aku berharap agar dia memelukku dalam kedua tangannya lalu memberiku ciuman lembut yang manis dan pelan-pelan. Betapa aku berharap agar dia menjadi pria yang bodoh, bahkan lemah, sehingga dia merasa membutuhkanku, membutuhkan belaianku dan air mataku.

Semua ini kelihatannya culun; tetapi kita, para wanita, memang ditakdirkan seperti itu. Apa daya kita? Tapi, tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan suamiku. Sekarang terjadi, tanpa cinta, tanpa alasan, tanpa apa pun, hanya karena bulan telah menyinariku suatu malam di pinggir Danau Lucerne itu.

Selama satu bulan itu, ketika kami melakukan perjalanan bersama, suamiku, dengan sikapnya yang masih acuh tak acuh, telah melumpuhkan semangatku, memadamkan rasa puitisku. Ketika kami menuruni jalan-jalan di pegunungan saat matahari terbit, ketika dua ekor kuda saling bersenda-gurau, dalam keremangan kabut, kami memandang lembah, hutan, sungai dan pedesaan, aku bertepuk tangan keras-keras dan berkata kepadanya: ’Betapa indahnya, wahai suamiku! Beri aku ciuman! Cium aku!’ Dia hanya menjawab, dengan senyum dinginnya: ’Tidak ada alasan bagi kita untuk saling berciuman hanya karena kamu menyukai pemandangan ini.’

Dan kalimatnya itu telah membekukan hatiku. Menurutku, ketika dua orang saling mencintai, mereka harusnya semakin tersentuh oleh pemandangan-pemandangan yang indah. Aku membeku bersama puisi hatiku. Aku seperti tungku yang tersiram atau botol yang tersegel rapat.

Suatu malam (kami menginap empat malam di sebuah hotel di Fluelen), karena sakit kepala, Robert langsung tidur setelah makan malam, dan aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pinggir danau itu.

Malam itu berlalu seperti dongeng-dongeng sebelum tidur. Bulan purnama mendadak muncul di atas langit; pegunungan tinggi, dengan semburat putih salju, seperti mengenakan mahkota warna perak; air danau gemericik dengan riak-riak kecil yang berkilauan. Udara begitu lembut, dengan kehangatan yang merasukiku sampai seperti mau pingsan. Aku begitu kepayang tanpa sebab apa pun. Tetapi, betapa peka, betapa bergolaknya hati saat itu! Jantungku berdegup keras dan emosiku semakin kuat.

Aku duduk di atas rumput, menatap danau yang luas, melankolis dan menakjubkan itu, seolah-olah ada perasaan aneh merasukiku; aku terangkum dalam rasa haus akan cinta yang tak terlegakan, sebuah pemberontakan terhadap kebodohanku sepanjang hidupku. Apa! Tidakkah menjadi takdir bagiku untuk dapat berjalan dengan seorang pria yang kucintai, dengan tangan saling berpelukan dan mulut saling berciuman, di pinggir danau seperti ini? Tidak bolehkah bibirku mengecap dalamnya ciuman yang lezat dan memabukkan di malam yang telah diciptakan Tuhan untuk dinikmati? Apakah ini nasibku untuk tidak meresapi indahnya cinta dalam bayang-bayang cahaya bulan di malam musim panas ini?

Lalu tangisku meledak seperti wanita gila. Kudengar sesuatu bergerak di belakangku. Dan seorang pria berdiri di sana, menatapku tajam. Ketika kupalingkan kepalaku, dia mengenaliku dan berkata, ’Kamu menangis, nyonya?’

Dialah pemuda yang tengah melancong bersama ibunya, dan kami sering bertemu. Matanya seringkali menguntitku. Aku begitu bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Kujawab saja bahwa aku sedang sakit.

Dia berjalan di dekatku dengan cara yang santun dan lembut, lalu mulai berbicara kepadaku tentang perjalanan kami. Segala yang kurasakan telah dia terjemahkan ke dalam kata-kata. Segala hal yang membuatku bergairah dapat dia pahami dengan sempurna, lebih baik dari diriku sendiri. Dan tiba-tiba dia mengutip larik-larik puisi Alfred de Musset. Tenggorokanku tersekat, aku terpesona dengan emosi yang meluap-luap. Terlihat di sekelilingku, pegunungan, danau dan cahaya bulan tengah bernyanyi untukku.

Lalu terjadilah. Entahlah. Aku tak tahu kenapa, semacam sebuah halusinasi.
Aku tidak bertemu lagi dengannya, sampai suatu pagi dia harus melanjutkan perjalanannya lagi. Dia memberiku sebuah kartu!"

Lalu, sambil jatuh ke dalam pelukan adik perempuannya itu, Madame Lotere menangis sesenggukan, nyaris seperti anak kecil. Madame Roubere, dengan wajah serius, berkata dengan lembut, "Dengarlah, kakakku, seringkali bukanlah seorang pria yang sesungguhnya kita cintai, tetapi cinta itu sendiri. Dan cahaya bulanlah yang menjadi kekasih sejatimu malam itu." ***

Cerpen Guy de Maupassant